RENUNGAN GLOBALISASI ISLAM

Resume Globalisasi Islam Sebuah Kesadaran Sejarah
Globalisasi yang kita pahami adalah globalisasi islam. Dalam kerangka filosofis keumatan, kita harus memahami bahwa islam adalah aturan universal yang bisa menjangkau dunia. Ia bisa melampaui ruang dan waktu, dan tak terbatasi. Globalisasi islam adalah proses mengglobalkan nilai-nilai universalitas, seperti toleransi, kebersamaan, keadilan, kesatuan, musyawarah dan lain-lain. Yang terpenting untuk dipahami bahwa bagi umat islam standarnya bukanlah berpijak pada pemenuhan kebutuhan ekonomi, politik dan keserakahan budaya. Karena pijakannya yaitu wahyu, dan orientasinya adalah sebuah upaya totalitas dalam kebaikan, ketegasan untuk menegasikan kemungkaran demi cita-cita luhur penghambaan kepada Allah semata. Inilah yang kita istilahkan dengan cita-cita peradaban. Dalam hal ini teori Kuntowijoyo berada pada posisinya yang tepat. Kuntowijoyo mengistilahkannya dengan liberasi dan humanisasi yang dibingkai oleh nilai-nilai transendensi. Hal ini bisa dicermati pada isyarat Allah dalam Qs. Ali Imran ayat 110,
”’kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah
Ayat tersebut memberi isyarat kepada kita mengenai arti kesadaran sejarah bagi umat islam, yaitu yang diistilahkan oleh Kuntowijoyo sebagai aktivisme sejarah. Artinya, umat islam mesti terlibat dalam pergulatan sejarah.
Jadi, pelakunya adalah ’umat’, dan tingkah lakunya adalah ’menyuruh kepada yang ma’ruf’, ’mencegah dari yang mungkar’, dan ’beriman kepada Allah’. Menurut Kuntowijoyo, dalam konteks masa kini, ’menyuruh kepada yang ma’ruf’ akan berarti humanisasi dalam budaya, mobilitas dalam kehidupan sosial, pembangunan dalam ekonomi dan rekulturasi dalam politik.
Pertama; Penguasaan atas referensi keislaman
Jika membaca kisah kenabian Muhamad Saw. dan generasi utama setelah beliau ternyata banyak pesan historis yang sangat luar biasa. Sehingga sampai saat ini kita bisa melihat dan merasakan bagaimana islam itu berkembang pesat, bahkan kita juga bisa menikmatinya secara tulus. Dan yang menjadi energi tangguh sekaligus sebagai tolak ukur kemajuan pada masa itu adalah penguasaan atas referensi utama keislaman. Coba kita bayangkan bagaimana cerdasnya ‘Aisyah ra. yang bisa menjadi referensi para sahabat yang lain ketika Rasulullah Saw. meninggal. ‘Aisyah ra menjadi referensi ilmu yang sangat luar biasa pada umur belasan tahun. ‘Aisyah ra. tentu tidak begitu saja menjadi referensi. Karena itu, ’Aisyah ra. pasti memiliki kapasitas pengetahuan yang sangat luar biasa. Demikian juga sahabat Abu Bakar ra., Umar ra., Utsman dan Ali ra.
Kedua; Penyiapan cadang kepemimpinan
Penyiapan cadang kepemimpinan tentu mengarah kepada kaderisasi atau regenerasi dan penyolidan simpul-simpul umat dan anak bangsa. Mengenai kaderisasi kepemimpian cukup banyak hal yang mesti difokuskan. Tetapi sebagai gagasan awal penjelasan pertama bisa dijadikan sebagai rujukan; terutama sebagai upaya mengubah wacana menjadi gerakan.
Yang jelas, generasi muda mesti menceburkan diri dalam realitas umat. Generasi muda harus membawa diri ke ruang-ruang komunitas umat secara langsung. Hidup bersama mereka, memberikan pengarahan atas apa yang mereka bingungkan, memberikan jawaban atas apa yang mereka tanyakan. Sehingga yang terjadi adalah pembentukan pola pikir, pola tingkah, pola sikap dan seterusnya; dan tidak berhenti pada komunikasi dan hubungan berdasarkan kepentingan sesaat.
Ketiga; Penguatan diplomasi dan jaringan
Kalau kita membaca sejarah kenabian Muhamad Saw., maka kita akan mendapatkan catatan penting bahwa kekuatan jaringan dan masifikasi diplomasi adalah dua hal yang menyatu dan tak terpisahkan dalam agenda perjalanan dakwahnya. Dengan dua kekuatan ini Rasulullah SAW. dan para sahabatnya mampu membangun sebuah peradaban besar sampai Madinah. Beliau dan para sahabatnya menjalin hubungan politis, ekonomis bahkan lintas budaya dengan berbagai suku dan tokoh-tokoh yang ada. Dari sini bisa kita pahami bahwa awal penyebaran islam diskenario oleh manusia-manusia yang sangat unggul dalam diplomasi untuk membumikan islam. Selain itu, tentu mereka juga memiliki keluasan jaringan. Sehingga sampai saat ini kita bisa melihat bagaimana islam itu berkembang dan diakui bahkan diyakini oleh banyak manusia sebagai satu-satunya ‘dien’ yang mampu menyeting peradaban untuk waktu yang cukup lama.
Dalam konteks ke-kini-an, terutama terkait dengan bacaan kita terhadap realitas dalam cita-cita merebut identitas global dengan Islam, maka hal ini menjadi penting dan harus menjadi pikiran seluruh elemen umat dan bangsa ini. Bangsa Indonesia, khususnya umat islam harus memulai dan lebih serius merambah ke ranah-ranah ini. Untuk itu jugalah, kemampuan berbahasa asing menjadi penting. Kita mesti terharu dan perlu bangga dengan diadakannya Lomba Debat Bahasa Arab se-Asean pada pertengahan Juli 2007 lalu di Malaysia yang diselenggarakan oleh Universitas Sains Islam Malaysia dengan tema “Menjadikan Bahasa Arab sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan dan Diplomasi”. Waktu itu Indonesia diwakili oleh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Islam Negeri Malang dengan prestasi juara III, setelah diungguli oleh ‘utusan’ kawakan intelektual muslim dari Universitas Islam Antara Bangsa yang sudah biasa dengan belasan bahasa Asing seperti Bahasa Arab, Inggris, dan Mandarin. Selain itu, kita juga mesti bangga dengan kunjungan aktivis mahasiswa muslim yang tergabung dalam Gabungan Mahasiswa Islam Se-Malaysia (GAMIS) ke KAMMI Daerah Bandung Jawa Barat, 3-5 Juli 2008 yang lalu. Walaupun pertemuannya sederhana, namun banyak hal yang dibicarakan, termasuk masalah pengkaderan dan obsesi gerakan pemuda islam dalam menata peta baru dunia. Ini merupakan awalan bagi pemuda dan mahasiswa muslim Asia Tenggara dalam menunjukkan identitas peradaban yang telah lama dilupakan. Ini juga menunjukkan bahwa ke depan aktivis gerakan pemuda dan mahasiswa muslim, harus mau melakukan komunikasi terbuka dengan gerakan pemuda dan mahasiswa muslim di tingkat dunia.
Renungan Akhir
Setiap masyarakat dan peradaban memiliki nilai-nilai yang diyakini. Kedudukan nilai dalam sebuah sebuah komunitas atau dalam tatanan global sekalipun bukan sekedar sebagai pemandu tetapi juga sebagai pemberi arti bagi kreativitas yang dilakukan. Nilai yang mengahrmonisasikan keragaman yang terdapat dalam sebuah tatanan seharusnya menjadi sebuah panorama kehidupan yang indah. Posisi nilai yang begitu penting, maka ia selalu melekat kuat dalam kehidupan. Ia menjadi tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari totalitas hidup pengusungnya. Nilai yang sudah tertanam dalam jiwa dan mentradisi itu menjadi energi yang mendorong seseorang atau sebuah komunitas untuk selalu bertekad dalam menegakkan dan bahkan membelanya.
Dalam konteks cita merebut identitas global, identitas nilai yang dimaksud adalah nilai ke-universalitas-an islam. Kemampuan untuk menyukseskan agenda ini adalah ujian sekaligus (seharusnya) menjadi fokus setiap elemen umat islam yang harus memilih jalan ini. Sehingga dengan demikian proposal meretas jalan kebangkitan Islam sebagaimana yang ditawarkan oleh Hasan al-Banna seperti yang disampaikan oleh Dr. Abdul Hamid al-Ghozali dalam bukunya ’Haula Asasiyat al Masyru’ al Islami Li Nahdhoh al-Ummah’ segera kita tunaikan. Untuk selanjutnya, biarkanlah sejarah yang akan bercerita, bahwa umat islam telah memberi hadiah peradaban gemilang kepada seluruh umat manusia di atas kemuliyaan islam yang sempurna; Allahu Akbar!

Tentang faizalputraku

orang taat banyak sahabat, orang jujur tetap makmur
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s